ALUMNI DESTINATION

Total Compilation of all BINUS SCHOOL

45+%

Indonesia

16%

America

12%

Europe

10%

Asia

6%

Australia

OUR PROFILE

Total Compilation of all BINUS SCHOOL

Achievements
285+

Achievements

Active Students
4337+

Active Students

Active Students
47+

Leadership Program in a Year

Active Students
25+

Annual Community Service Program

Active Students
71%

Students Joining Non-Academic Activity

Testimonial

Amanda Sugiharto

The countless opportunities and supportive environment in BINUS SCHOOL Simprug has enabled me to learn and grow, shaping and preparing me well for my next chapter in life. Thank you BINUS SCHOOL Simprug!

View All

Urban Farming Innovation through Affordable and Eco friendly Hydroponic System

28 January 2022
Urban farming is no longer a new term in our ears. There are a lot of people who have been doing urban farming such as growing their own vegetables at home. Aside from improving  daily vegetable needs for the family, growing vegetables is also seen as a hobby, a self-healing activity, as well as an action for sustainability. There are a lot of methods to grow plants that can be done . This also applies to BINUS SCHOOL Simprug student, Claire Angela Santoso, who started to do urban farming around 2020. It started off from a project community development, a program provided by her school, when Claire chose urban farming to be developed and further explored to give impact to her community. After she decided to do urban farming as her focus, she started to do research, collected references, and made a visit to hydroponic stores around her neighborhood. Through the experience, she found that hydroponics not only can reduce the amount of water being used  but also saves time. In addition, it is very efficient if you don’t have much space to spare. However, Claire also realized that there are downsides through this method, price. Since then, Claire kept exploring her options to find a hydroponic system that is efficient, effective, and eco-friendly. The next step Claire took was to build a hydroponic system by using old scrap materials. She collected glass bottles and plastic bottles from different events she attended. She gathered styrofoam boxes from fruit shops, and used tarps. To replace flannel wick and rock wool, she found old clothes, sponge, foam from old furniture, and coconut husk as the alternatives. She then learned that however amazing and useful coconut husks are, it cannot hold sprouts as well as the other medium upon her alternative list. For months of experiments,  Claire had to trial the hydroponic process until she finally came up with the best option to grow different sprouts in the most efficient, effective, and eco-friendly way. With her simple ideas and findings, she started to visit different areas with low economy status and share her findings to reuse household wastes such as single use packaging, styrofoam, old and unused clothes as their medium to grow vegetables at home. These vegetables can be consumed by the family with a low budget, minimal space, and also limited water usage. Unexpectedly, this new way of urban farming project has finally developed beyond initial exploration and experiment. Claire realized that one way to create more changes and contributions to the society through this project is by collaborating  with local businesses. This way, she was able to expand her project to become a business called EcoGreen Hydroponics. Claire, then, was able to collaborate with small-local fruits and vegetable stores in Jakarta, starting with Apple. This partnership is a 70 – 30 profit sharing partnership, where EcoGreen Hydroponics profit is to be reinvested back to the materials needed for Claire to regrow vegetables to be shared for low-income families in her surroundings. Not only that it was shared to the low-income families, some of the harvested vegetables have been shared to the local sellers who sell their vegetables in the cart around the residential areas. To these sellers, Claire did not take any profit, as she sold it for Rp. 1.000,- (USD$ 0.07) a piece, to where these sellers can sell it for as much as 7 times the cost. All of these are a way to contribute and support small businesses to help low-income families.    Claire’s spirit to build EcoGreen Hydroponics as an efficient hydroponic system that yields to a support for low income families, brought her to the American Chamber of Commerce in Indonesia to share her story in Young Changemakers Showcase Panel 2020*. In there, Claire, standing next to 5 other inspiring student speakers, had the chance to present her ideas, actions , and plans to her project in the future. Hydroponic has been  Claire’s favorite pastime as a result of her curiosity to find economical and ecological alternatives from conventional materials. Her findings brought impacts not only to herself, her community, but also the low-income families who will be able to use her findings not only for their present but also future life.  *https://www.amcham.or.id/en/event/detail/young-changemakers-showcase-panel-an-education-corporatecitizenship-forum.   For more information:   EcoGreen Hydroponics: http://ecogreenhydroponic.com __________________________________________________________________________________________ Akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mulai menerapkan gaya hidup urban farming dengan menanam sayur sendiri di rumah. Selain untuk memenuhi kebutuhan sayur harian bagi keluarga, menanam sayur juga memilki banyak manfaat seperti sebagai hobi untuk menghilangkan stress hingga dapat mendukung mengurangi efek global warming. Berbagai pilihan metode menanam pun tersedia sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Tak terkecuali yang dilakukan oleh Siswa BINUS SCHOOL Simprug – Claire Angela Santoso yang mulai mendalami urban farming sekitar dua tahun lalu. Tak hanya menanam sayur, kegiatan yang dilakukannya juga dikontribusikan bagi masyarakat.   Berawal dari project community development yang diadakan di sekolahnya, Claire memilih urban farming untuk dikembangkan dan dikontribusikan kepada masyarakat. Claire mulai melakukan riset, mengumpulkan referensi, dan mengunjungi toko hidroponik di daerahnya, untuk menjawab keingintahuannya tentang urban farming, Claire mendapati bahwa hidroponik merupakan metode yang hemat penggunaan air, waktu, efisien memaksimalkan penggunaan ruang di antara manfaat lainnya. Namun, terdapat juga kekurangan dari metode ini, yaitu dalam hal biaya yang tidak murah. Sejak saat itu, Claire terus bereksplorasi untuk menghasilkan sistem hidroponik yang efisien, efektif, dan ramah lingkungan.   Claire merancang dan membangun sistem hidroponik dengan memanfaatkan bahan bekas yang dipergunakan kembali. Dia mengumpulkan gelas dan botol plastik bekas dari acara yang dihadiri, memanfaatkan kotak styrofoam yang tidak terpakai dari toko buah, dan memanfaatkan terpal bekas. Sebagai pengganti sumbu flanel dan media rockwool yang biasa digunakan untuk bertanam hidroponik, alternatif menggunakan baju bekas, spons, foam dari sisa furniture, dan sabut kelapa. Dia pun mempelajari satu hal bahwa sabut kelapa tidak dapat menahan kecambah bibit sayur sekuat media lainnya.   Selama berbulan-bulan melakukan percobaan dan melalui berbagai kegagalan, Claire akhirnya menemukan teknik terbaik untuk menumbuhkan berbagai jenis benih sayuran. Dengan berbekal ide dan pengetahuan teknis dalam menggunakan bahan daur ulang untuk bertanam secara hidroponik, dia mulai mengunjungi wilayah dengan masyarakat ekonomi lemah dan memberikan edukasi untuk memanfaatkan sampah rumah tangga sehari-hari (plastik sekali pakai, wadah styrofoam, pakaian) sebagai media menanam sayuran untuk dikonsumsi sehari-hari dengan biaya yang murah, serta hemat penggunaan air dan ruang.   Project ini akhirnya berkembang melampaui eksplorasi dan eksperimen awal. Claire menyadari bahwa bisnis merupakan jalan baginya untuk membuat perubahan dan kontribusi pada masyarakat, dia juga meyakini dapat membantu pertumbuhan bisnis sayuran di lingkungannya. Claire memberi nama EcoGreen Hydroponics sebagai merek dan mulai mengadakan kerjasama dengan toko waralaba yang menjual sayuran dan buah di Jakarta yaitu “Apel”. Kerjasama dalam bentuk sistem bagi hasil 70-30 di mana keuntungan yang diperoleh akan diinvestasikan kembali menjadi bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi lebih banyak sayur yang akan disalurkan kepada masyarakat.   Sebagian sayuran yang dipanen juga disalurkan kepada pedagang gerobak sayur yang berjualan di daerahnya. Kepada pedagang ini Claire sengaja tidak mengambil untung, yaitu hanya menjual seharga Rp1000,- (0,07 USD) sepotong di mana para pedagang bisa menjual hingga 7 kali lipat. Ini dilakukan sebagai wujud kontribusi untuk mendukung usaha mikro serta membantu masyarakat ekonomi lemah.   Kegigihan Claire dalam membangun EcoGreen Hydroponics sebagai sistem hidroponik yang efisien untuk dikontribusikan kepada masyarakat, membawanya mendapat kesempatan berbagi cerita kepada American Chamber of Commerce in Indonesia dalam diskusi bertajuk Young Changemakers Showcase Panel in 2020*. Dalam acara tersebut, Claire mempresentasikan ide, kegiatan dan rencana project ke depannya bersama 5 narasumber siswa lainnya yang berhasil membangun organisasi yang berdampak kepada masyarakat.   Hidroponik menjadi kegiatan ekstrakurikuler buah dari rasa keingin-tahuannya selama dua tahun terakhir untuk mendapatkan alternatif pengganti bahan konvensional yang lebih murah, bagaimana memaksimalkan potensi, dan memecahkan kendala yang dihadapi, yang pada akhirnya akan bermanfaat dan berdampak positif kepada masyarakat.   *https://www.amcham.or.id/en/event/detail/young-changemakers-showcase-panel-an-education-corporatecitizenship-forum.   Informasi lebih lanjut:   EcoGreen Hydroponics: http://ecogreenhydroponic.com    
Read More

BINUS SCHOOL is in BEVE Hybrid 2022!

Chiara Amanda Santoso, The Quiet Girl Who Roars

Asia-Pacific Young Leaders Convention 2021

View All

No Events Found

Our Facilities

View All →

Music Room

MS HS Library

Aerial

School Location

Contact Us Application